Image and video hosting by TinyPic

Sutopo Purwo Nugroho, Sang Informan Bencana dan Kehidupannya yang Inspiratif

Please log in or register to like posts.
News
Peperangan Sutopo Purwo Nugroho melawan kanker paru-parunya telah usai. Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini baru saja dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, 7 Juli 2019, pukul 02.00 waktu China.
Kabar ini tentu meninggalkan duka di hati masyarakat Indonesia, terlebih para wartawan, korban, ataupun keluarga korban bencana. Pak Topo, panggilan akrabnya, adalah orang yang sangat aktif dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya dalam menyampaikan informasi mengenai bencana.
Kuat, tegar, dan bersemangat adalah kesan yang muncul jika kamu mengenal pak Topo. Ya, kalau kamu setia mengikuti berita sederetan bencana yang bertubi-tubi dialami Indonesia tahun kemarin, mulai dari gempa Lombok, tsunami, likuifaksi Sulawesi Tengah, dan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, kamu pasti mengenal sosok almarhum.
Semasa kecilnya, pak Topo menggambarkan dirinya sebagai anak mungil yang ‘bodoh, miskin, dan dekil’. Ia pernah bercerita, kala itu ia baru bisa membaca saat sudah menginjak kelas 2 SD. Bahkan ia pernah mendapatkan nilai nol saat menghadapi ulangan Bahasa Indonesia di kelas 4 SD.
Di tengah keputusasaannya, Topo kecil memiliki guru hebat yang ia sebut ‘berjasa membentuk karakternya sekarang’. Ia adalah Ibu Guru Sri Suarti, guru yang melihat kelebihan Topo kecil dan nggak sungkan memuji dirinya di depan kelas. “Saat itu beliau memuji saya sebagai anak yang rajin kerena mau membantu orangtua. Saat dipuji di kelas, rasanya enak sekali. Dari situ saya mulai sering belajar,” jelas pak Topo.
Beranjak dewasa, Topo tumbuh menjadi sosok pemuda yang lebih rajin, giat, dan berprestasi. Ia berhasil masuk Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, meski itu bukanlah jurusan yang di harapkannya. Walaupun awalnya ogah-ogahan, ia sempat menjadi asisten dosen di UGM. Pada tahun 1994, Topo pun lulus dengan gelar Summa Cum Laude.
Setelah lulus, ia langsung bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapat Teknologi (BPPT). Disana ia ditempatkan sebagai salah satu peneliti hujan buatan, khususnya dalam mitigasi bencana selama 7 tahun.
Pada Jumat 27 Maret 2009, tanggul Situ Gintung Cireundeu, Tangerang, jebol dan memakan korban meninggal lebih dari 105 jiwa. Dua bulan sebelumnya, pak Topo baru saja menyelesaikan penelitian mengenai kualitas air di sana. Karena memiliki data penelitian yang sangat lengkap, ia melaporkan hasil temuan analisis yang dimilikinya. Banyak media yang mencarinya. Lantas ia dipanggil kepala BNPB untuk menjelaskan tragedi tersebut.
Pada 2010, ia kembali dipanggil BNPB untuk menjelaskan bagaimana Bengawan Solo dapat mengalami banjir sebesar itu. Penjelasan yang menarik, lugas, dan tata bahasa yang baik membuat kepala BNPB mengajaknya untuk bergabung sebagai Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Baru saja dilantik, ada tiga bencana besar yang terjadi, yakni banjir bandang di Wasior, tsunami Mentawai, dan erupsi Gunung Merapi. Kembali, ia berhasil menyampaikan segala informasi yang dibutuhkan dengan sangat baik.
Hanya dalam waktu sebulan, ia ditawari untuk pindah jabatan sebagai Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB. Awalnya ia menolak, namun akhirnya ia menerima pekerjaan tersebut. Saat itulah ia baru mulai dikenal oleh wartawan dan masyarakat luas.
Pada 2012, pak Topo hampir diberi gelar Profesor oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun sayangnya, pemberian gelar itu mendadak dibatalkan dengan alasan namanya dikenal bukan sebagai tokoh dari lembaga riset.
Ia mengaku kecewa, namun ayah mendiang pak Topo selalu mengingatkan, “Orang hidup tidak selamanya lurus, lempeng. Ada kalanya bertemu jurang. Itu takdir yang harus ditermia, hidup nggak usah terlalu ngoyo (dipaksakan).”
Terlepas dari rasa kecewa tersebut, ia tetap memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya. Ia pernah mengaku, pertanyaan mengenai bencana yang sering dilontarkan oleh wartawan kerap berulang-ulang. Namun hal ini dimakluminya karena background yang mereka miliki berasal dari berbagai bidang. Karena itu ia terus berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia terkenal lantaran pembawaannya yang selalu bersemangat saat menyampaikan
Ditengah-tengah semangat dan guyonan pemecah duka saat menyampaikan informasi bencana dengan bahasa yang mudah dicerna orang awam, sang informan bencana ini sedang bertanding melawan kanker paru-paru stadium 4B dalam tubuhnya.
Seolah perkara yang mudah, bapak kelahiran Boyolali yang usianya sudah berakhir di 49 tahun ini tetap semangat meski masih menjalani pengobatan penyakit kanker paru-paru sejak Januari 2018 silam. Bahkan, demi dedikasinya terhadap masyarakat dan pekerjaannya, ia pernah menjadi penyalur lidah bencana langsung setelah mencopot selang infus pada saat konferensi pers gempa Sulteng.
Meski tetap gigih dalam menghadapi pekerjaan dan penyakitnya, tangisannya pun meledak. Namun ini bukan tangis ratapan penderitaannya, melainkan tangisan untuk kedua anaknya. “Kalau kalian nanyain soal anak, nangis saya, benar. Saya itu bekerja untuk anak, untuk ibu saya,” mengingat kata Sutopo saat dalam wawancara ekslusif bersama Najwa.
Demi bisa terus melihat anak-anaknya tumbuh dewasa, ia rela berjuang melawan rasa sakit yang dideritanya saat menjalani pengobatan kemoterapi di China. Sayangnya, fisik pria paruh baya ini tidak sekuat semangat yang ada dalam dirinya.
Pada 8 Juli 2019, jasadnya telah disemayamkan di tanah kelahirannya, Boyolali. Meski tubunya telah terkubur, semangat dan perjuangan pak Topo nggak pernah padam dalam setiap hati masyarakat Indonesia. Selamat jalan pak Topo, jasamu akan terus kami kenang.
(YS)
Cover: tribunnews.com
Image and video hosting by TinyPic

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Reactions

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *