Stop Memamerkan Gangguan Mental di Medsos! Ini Akibatnya Kalau Kamu Terlalu Sering Pamer

Please log in or register to like posts.
News

Penelusuran hashtag #depressed di Instagram menghasilkan lebih dari 12,8 juta postingan. Menyedihkannya, beberapa postingan yang menggunakan tagar ini menunjukan foto-foto perempuan cantik atau laki-laki bergaya hypebeast yang sedang merokok, meminum minuman keras, dan menunjukan sejumlah foto sadboi ber-captionhelp“.

Seorang ahli kesehatan mental Aditi Verma mengatakan, saat ini banyak anak muda yang menganggap kalau memiliki gangguan mental adalah sebuah tren yang dapat mendongkrak popularitas di media sosial. Mereka meremehkan gangguan kecemasan dan depresi sebagai perasaan yang mudah digambarkan melalui editan foto dan teks sederhana.

Sebenarnya tren ini sudah muncul di Tumblr sejak 10 tahun lalu dan mereka disebut sebagai kaum emo. Awalnya orang-orang yang mengatasnamakan emo ini jadi bahan lelucon karena gayanya yang gothic disertai dengan caption-caption alay yang menunjukan rasa depresi mereka. Namun, tren ini sudah menyebar ke Instagram dengan gaya lebih keren sehingga banyak orang yang menggunakan istilah depresi agar terlihat trendy dan hipster.

Akun-akun Instagram seperti @sadthoughts_1 dan @__depressionquotes berisi konten-konten seperti ini dan sudah memiliki ribuan pengikut. Dan faktanya, tren yang mengglorifikasikan ganguan mental ini mengancam kesehatan jiwa raga anak-anak muda selama 10 tahun terakhir.

Internet memungkinkan orang membangun komunitas untuk menyatukan penderita gangguan mental. Komunitas ini menjadi besar dan tanpa disadari telah menciptakan dua klasifikasi gangguan mental, ada yang dianggap ‘keren’ dan ada yang nggak. Penderita yang dianggap nggak keren dan terkesan gila jadi terisolasi, diantaranya adalah gangguan bipolar, skizofrenia, dan gangguan kepribadian ambang batas. Mereka yang memiliki gangguan-gangguan tersebut memilih untuk menutup dirinya agar nggak diketahui siapapun, bahkan jadi takut untuk mencari pertolongan. Selain itu, budaya mengglorifikasikan gangguan mental ini juga terkesan melazimkan orang yang mengalami depresi untuk melarikan diri dengan cara hidup nggak sehat, seperti merokok, mabuk, menggunakan obat terlarang dan menyiksa diri sendiri.

Media sosial memang merupakan salah satu wadah untuk mengekspresikan diri. Tetapi, bijaklah dalam mengunggah sesuatu. Ingat, gangguan mental adalah masalah serius dan perlu diagnosis dari psikiater atau psikiatris terlebih dahulu, bukan sekedar mengaku-ngaku tanpa keterangan psikologis. Jika kamu merasakan gejala gangguan mental, segera periksa dan dapatkan keterangan yang tepat untuk menanganinya.

(YS)

Cover: everydayhealth.com

Reactions

2
0
0
0
1
0
Already reacted for this post.

Reactions

2
1

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *