Kerusuhan Papua: Nasib Mereka yang Lari dari Saudara Sendiri

Please log in or register to like posts.
News

Nafas Jojo terengah-engah. Butiran keringat sebesar biji jagung terus mengalir deras di dahinya. Jojo adalah pemuda asli Papua, satu dari ratusan warga Jayapura lainnya yang juga sangat ketakutan meski sudah berlindung di Markas TNI AL, Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, menghindar dari serangan si penjarah. Ya, Papua sedang mengalami kerusuhan yang sangat mengerikan.

“Kondisi kami lagi trauma. Itu yang membuat kami mengungsi,” kata Jojo, pada Jumat (30/08/2019), dilansir dari Antara. Hingga kini, keselamatan mereka tergantung pada aparat yang berjaga-jaga. Pria yang dinilai sudah cukup dewasa saling bergantian untuk ikut memantau keadaan. Mereka mengatakan, ini bukan lagi menyampaikan aspirasi, melainkan aksi mendestruksi yang merugikan semua warga Papua. Mereka yang waras berusaha bersatu, bersatu mengamankan keluarga mereka dari serangan si penjarah yang sebenarnya adalah saudara setanah air.

Hingga kini, suasana Papua masih sangat memprihatinkan. Pusat kota Jayapura terlihat seperti dilanda perang. Massa telah melakukan perusakan, penjarahan hingga pembakaran di sejumlah titik. Di Kabupaten Deiyai, Papua, kerusuhan ini setidaknya telah merengang satu nyawa anggota TNI dan dua nyawa warga sipil akibat anak panah, terlontar dari oknum demonstran yang terpancing emosinya.

Disinyalir, awal mula kerusuhan ini terjadi karena persekusi mahasiswa Papua di Surabaya, Malang dan Semarang. Beberapa hari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia, Asrama mahasiswa Papua di Surabaya didatangi Satuan Polisi Pamong Praja untuk meminta izin pemasangan bendera merah putih di depan asrama. Sehari sebelum hari kemerdekaan Indonesia tiba, Komandan Rayon Militer (Danramil) Tambaksari tba-tiba datang dan marah-marah.

Dilansir dari Suara.com, ia bersama sejumlah anak buahnya yang berseragam dan berpakaian preman menendang dan merusak pintu pagar asrama. Tentara dan Satpol PP menuduh Mahasiswa Papua merusak tiang bendera merah putih di depan asrama dan membuang bendera kebanggaan Indonesia tersebut ke selokan.

Ancaman untuk membunuh para penimba ilmu dari Papua tersebut terlontar dari mulut seorang tentara. “Awas kamu, kalau sampai jam 12 malam kamu keluar, lihat saja, kamu saya bantai,” teriak seorang tentara dari luar pagar asrama, menurut salah satu mahasiswa yang ada dalam asrama. “Monyet”, “babi”, “anjing”, “kera”, segala macam umpatan dan makian rasial terus bersahutan. Semakin lama massa semakin ramai. Bukannya melerai, mereka malah ikut memaki dan bahkan melempar batu hingga memecahkan jendela asrama.

Mendengar kejadian ini, warga Papua geram. Kemarahan mereka semakin membara karena pemerintah Papua dinilai lambat memberikan respons. Akibatnya sejumlah oknum memanfaatkan kemarahan mereka dengan melakukan memprovokasi dan menyebarkan hoax agar mereka melakukan perusakan di sejumlah kantor pemerintahan di wilayah Papua. Kerusuhan membesar hingga akhirnya penjarahan dan pembakaran di sejumlah titik pusat pembelanjaan dan SPBU pun terjadi.

Terlepas dari suku, ras, agama dan gender, semua orang diciptakan sepadan. Kami percaya, #PapuaBukanMonyet. Akan tetapi, melakukan hal-hal destruktif lainnya bukanlah solusi untuk menangani masalah ini. Ingatlah, kita satu, kita Indonesia. Berhenti membenci, mulai mencintai. Yuk, sama-sama kita berdoa untuk keselamatan dan kedamaian melingkupi hati seluruh warga di Papua.

(YOH)

Cover: Tribune News

Reactions

1
0
0
0
1
0
Already reacted for this post.

Reactions

1
1

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *