Image and video hosting by TinyPic

Hati-hati, Social Climber itu Ternyata Penyakit Kejiwaan Lho

Please log in or register to like posts.
News
Superyouth, pernah nggak sih kamu mendengar istilah social climber? Atau kamu lebih akrab dengan istilah panjat sosial? Sebenarnya, keduanya adalah hal yang sama dan nggak baik untuk kamu.
Disadur dari Urban Dictionary, social climber mirip dengan ‘pencari perhatian’ dan mereka memiliki keinginan kuat untuk diakui status sosialnya. Mereka akan berteman dengan siapapun yang menurut mereka dapat memberikan dampak pada status mereka. Uuuww…
Ini ciri-ciri yang biasanya mereka tunjukkan:
Harus eksis
Kafe yang paling baru, barang yang lagi hits, tempat ngopi yang lagi rame, dia pasti sudah punya stok foto saat sedang berada di sana. Padahal, bisa jadi mereka hanya membeli segelas kopi atau sekadar lewat. Yang penting tag tempat dan foto di tempatnya. Kalau ditanya, belum tentu mereka mengetahui produk-produknya lebih jauh.
Harus mewah
Percaya deh, dia nggak akan posting makan di warteg seperti Cinta Laura. Mereka yang memang ingin mencari pengakuan akan lebih banyak menunjukkan sesuatu yang mewah dan membuat orang bertanya-tanya tentang kehidupan sosial kamu.
Terlihat punya banyak teman padahal kesepian
Kamu bisa melihat mereka memiliki banyak komunitas, banyak teman untuk hangout, traveling, tapi itu semua hanya untuk eksistensi mereka. Kebanyakan mereka hanya fokus untuk status dan kehilangan hal-hal berarti seperti pertemanan.
Sok kenal sok dekat
Entah kenapa mereka suka sekali berada di dekat orang-orang yang terkenal, memiliki dampak yang besar, dyang followersnya banyak, pokoknya yang begitu deh. Mereka juga suka memberikan komentar di media sosial yang ingin menunjukkan kedekatan mereka dengan orang tersebut. Padahal baru kenal, tuh! Yang penting gimana caranya orang lain bisa notice kalau dia ada hubungan dengan orng terkenal tersebut.
Follow back dong kakak
Hahaha… Kalimat ini sudah menjadi salah satu tanda mereka yang menjadi social climber. Untuk mereka jumlah followers itu penting, siapa yang menjadi subscriber mereka itu penting. Beberapa social climber bahkan bisa stres kalau followers mereka berkurang. Likes di konten mereka nggak sebanyak milik teman-temannya. Jangan sedih, mereka bisa mengunggah hal yang sama beberapa kali demi mendapatkan likes dengan jumlah terbaik.
Superyouth, tanpa harus menjadi social climber kamu itu sudah berharga. Kamu itu nggak perlu pengakuan dari orang lain karea Tuhan sudah bilang bahwa kamu adalah ciptaanNya yang paling baik. So, be yourself and love yourself.
(ERN)
Cover: adweek.com
Image and video hosting by TinyPic

Reactions

2
4
0
0
0
1
Already reacted for this post.

Reactions

2
4
1

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *