Diklaim Lebih Aman, Vape Nggak 100 Persen Bebas Risiko!

Please log in or register to like posts.
News
Beberapa tahun belakangan ini vape menjadi tren untuk kalangan anak muda. Banyak yang menilai, penggunaan vape jauh lebih sehat ketimbang rokok. Dalam penelitian Kardiolog asal Yunani, Konstantinos Farsalinos, rokok elektrik memang bisa mengurangi dampak buruk akibat rokok konvensional. Namun, yang sering disalahartikan adalah pernyataan “jauh lebih sehat” atau “jauh lebih aman” bukan berarti membuat vape bebas 100 persen dari risiko, lho.
Apa sih yang membuatnya berisiko? Vape liquid atau cairan konsentrat yang menjadi bahan utama akan dipanaskan dalam mesin vape dan secara sistematis menghasilkan uap yang kamu hisap. Nah, nggak seperti insang, paru-paru kita nggak dirancang untuk menerima kadar cairan dalam jumlah yang besar.
Peneliti Harvard mengungkapkan, uap vape dapat membuat paru-paru menjadi basah dan memperbesar risiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau popcorn lung. Nggak main-main, satu-satunya cara untuk sembuh dari penyakit ini adalah transplantasi paru-paru. Dengan kata lain, paru-paru yang sudah terinfeksi harus diganti dengan paru-paru orang lain dan itu sangatlah tidak mudah. Bukan hanya tentang biayanya, dalam semua kasus transplantasi organ, organ yang didonorkan harus memiliki kecocokan darah dan jaringan organ, sehingga kita nggak bisa sembarang memilih atau menjadi pendonor.
Selain itu, meski dalam kemasan vape liquid tertulis nicotin-free, tes laboratoriun FDA (Food and Drug Admnistration of USA) menemukan kandungan nikotin yang sangat besar pada cartridge vape atau tabung dimana kamu memasukkan vape liquid. Dengan kata lain, vape memang dirancang agar kamu memiliki pengalaman kecanduan seperti rokok dan terus mengonsumsinya secara berkala.
Dikutip juga dari penelitian yang dilakukan oleh Washington Healthy Youth Survey, rasa dan garam nikotin dalam vape liquid, yang membuat vape lebih mudah untuk dihirup, dapat membahayakan otak pemakainya. Khususnya untuk mereka yang masih mengalami perkembangan hingga usia 25 tahun. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko kecanduan obat lainnya.
Lalu bagaimana? Masih ingin menggunakan vape atau merokok? Semua pilihan ada ditanganmu. Tapi harus ingat, setiap pilihan dalam hidup ini ada risikonya. Selamat hidup sehat!
(YS/ERN)
Cover: malaymail.com

Reactions

1
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Reactions

1

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *