Coba Lebih Peka, Ini 6 Sifat yang Membuat Orangtua Kamu Sedih

Please log in or register to like posts.
News
Pernah bingung saat orangtua marah dengan hal yang menurut kita wajar? Kok sepertinya mereka kaku banget ya, nggak milennial banget, deh.
Sebenarnya ini adalah hal yang wajar, lho. Dalam setiap fase generasi, pasti mereka akan mengalami generation gap atau merasa janggal dengan karakter dari orang yang berbeda generasi dengan dirinya. Namun beberapa hal yang kita anggap wajar belum tentu hal yang bagus, lho. Inilah 6 sifat milenial yang bisa membuat orangtua kita sedih.
Gaya hidup konsumtif
Untuk kita para milenial, salah satu hal yang menurut kita penting dalam hidup adalah menjadi ‘beda’ dari orang lain, berusaha membangun personal branding dengan menunjukan eksistensi lewat penampilan atau karya. Hal ini membuat kita akan melakukan beberapa hal yang bisa meningkatkan level sosial kita, salah satunya belanja hal-hal yang kita inginkan. Akibatnya beberapa dari kita terjebak dalam gaya hidup yang konsumtif. Mungkin menurut kita hal ini nggak salah jika kita beli barang-barang menggunakan uang kita sendiri. Tapi yang perlu diketahui, kebutuhan dan keingingan itu beda, lho. Masih banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi. Dan gaya hidup konsumtif bakal semakin berbahaya saat kita dewasa nanti. Kebiasaan boros inilah yang membuat ortu kita sedih memikirkan masa depan kita kelak.
Serba instan
Gaya hidup yang serba cepat membuat kita para milenial cenderung menginginkan hasil yang instan. Gaya hidup instan ini memang mendorong kita untuk menciptakan inovasi yang membuat hidup kita makin praktis. Namun di sisi lain gaya hidup ini juga membuat kita nggak mau ambil pusing dalam berbagai hal, salah satunya dalam mengambil keputusan. Hal ini juga yang membuat kita nggak mau mikirin masukan ‘kolot’ orangtua kita dan cenderung menolak pendapat mereka dengan ketus. Yep, itu bikin sakit hati orangtua juga, lho.
Memegang ‘prinsip’ nggak pandang usia
Mempertahankan prinsip dan ketegasan itu baik. Tapi bukan berarti kita lupa sama nilai moral dan etika. Sebagai anak yang masih belajar, alangkah lebih baik kita menghormati orang yang lebih tua dari kita, termasuk orangtua dan guru di sekolah. Meskipun mereka bisa saja salah atau menyalahi aturan, bukan berarti kita mengurangi rasa hormat kita terhadap mereka. Boleh menegur, namun tetap sopan, ya.
Alergi dengan pekerjaan rumah
Nggak asyik banget deh kalau lagi main videogame atau chat sama temen, eh malah disuruh ngepel atau cuci piring. Kayak nggak suka liat kita bahagia aja yak. Eits… tunggu dulu. Coba pikirkan, sudah berapa lama kamu mainan videogame atau nonton K-Drama seharian ini? Menurut penelitian, milenial rata-rata memiliki waktu yang boros untuk berada di depan PC, smartphone, tablet, dan televisi setiap harinya. Tercatat, angka ini 17 kali lebih lama ketimbang generasi sebelumnya. Seringkali mereka bakal mencari alasan yang beragam saat dimintai bantuan orangtua, ada yang menunda dan bilang masih membalas chat atau streaming video di youtube. Kamu juga gak nih?
Anti social-social club
Kebiasaan menggunakan gadget dan aktif di medsos membuat kita justru enggan berinteraksi tatap muka langsung, termasuk dengan keluarga dan tetangga. Boleh sih merespons followers kamu yang ratusan bahkan ribuan di Instagram, tapi sedih juga kalau nyatanya kamu mengabaikan orang-orang terdekatmu hanya karena mengurusi orang yang belum tentu kamu kenal. Hal ini juga jadi salah satu kekhawatiran orangtua kamu. Mereka takut kamu nggak bisa bersosialisasi di dunia nyata.
“Teman Lebih dari Keluarga”
Ironis bukan saat kita lebih mementingkan temen dibanding keluarga sendiri. Memang sih nggak semua keluarga itu sempurna dan justru kita menemukan kenyamanan dari lingkungan pertemanan kita. Tapi bukan berarti kita boleh mengabaikan keluarga, termasuk orangtua. Terlepas mereka adalah role model yang baik atau nggak, orangtua adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk hidup kita. Bagaimanapun juga, kita dilahirkan di dunia ini karena mereka. Daripada menuntut mereka untuk menjadi orangtua yang sesuai dengan keinginan kita, cobalah belajar menjadi anak yang terbaik untuk mereka, salah satunya menunjukan ketulusan cinta kasih kita sebagai anak.
Sudah mengerti maunya orangtua kan? Salah satu hal yang mereka berikan untuk kita adalah kepercayaan untuk mengeksplor diri dalam menemukan jati diri dan karakter yang baik menuju kedewasaan. Jadi selama kalian memegang dan jaga kepercayaan itu, pasti ortu kalian bakal semakin cinta dan sayang sama kalian. Selamat berjuang menjadi anak kesayangan, ya. Hehehe.
(YS)
Cover:

Reactions

9
1
2
0
1
0
Already reacted for this post.

Reactions

9
1
2
1

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *