Berlari Lagi! Ini Cerita Muhammad Zohri Menuju Olimpiade Tokyo 2020

Please log in or register to like posts.
News
Banyak yang dapat berubah dalam 10,03 detik, salah satunya nasib seorang sprinter muda asal Indonesia, Lalu Muhammad Zohri. Di usianya yang ke-18 tahun, ia sudah menjadi sprinter tercepat di Asia Tenggara dan hanya kurang 0,3 detik untuk mengalahkan kecepatan peraih medali emas olimpiade, Justin Gatlin di Golden Grand Prix Osaka pada 19 Mei 2019.
Zohri berada pada posisi ketiga dalam turnamen ini. Namun, posisi ini cukup untuk mengunci takdirnya untuk berpartisipasi dalam ajang terbesar untuk atlet pelari sepertinya, yaitu Olimpiade Tokyo 2020. Nama Zohri mulai berdengung kencang dalam dunia lari cepat sejak kemenangan yang nggak terduga dalam kejuaraan atletik U-20 di Tampere, Finlandia, 2018.
Zohri memulai semuanya dari bawah. Ia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Kedua orangtuanya sudah tiada. Ibunya meninggal saat ia masih duduk di Sekolah Dasar, sedangkan ayahnya meninggal saat ia masih berusia 17 tahun, nggak lama sebelum ia berangkat ke Finlandia. Sejak itulah ia dibesarkan oleh kakak-kakaknya.
Bahkan sebelum terbang ke Finlandia, ia sempat meminjam uang 400 ribu rupiah kepada kakaknya untuk membeli sepatu agar diizinkan mengikuti kompetisi sprint tersebut. Dan mungkin saja, ini adalah investasi terbaik yang pernah dilakukan sang kakak. “Dia meminta uang ke saya untuk membeli sepatu baru sebelum pergi ke Jakarta untuk terus bersaing di luar negeri. Saya hanya bisa memberikan apa yang saya miliki. Saya sangat bangga dan dia tidak pernah menuntut lebih,” kata saudara perempuan Zohri, Baiq Fazilah, dilansir dari olympicchannel.com. Fazilah mengingat momen-momen dimana adiknya berlatih tanpa alas kaki, berlari di atas pasir.
Kemenangan di Finlandia inilah yang membuat namanya melejit, bahkan bisa menjadi tamu kehormatan di Istana Negara dan bertemu Presiden Indonesia. Namun, Zohri yang sekarang tetaplah Zohri yang tetap membumi.
Ketika Presiden Joko Widodo menawarkan bantuan agar rumah Zohri direnovasi, keluarga dan Zohri meminta agar renovasi yang dilakukan tidak mengubah bentuk dasar bangunan yang menjadi warisan peninggalan mendiang sang ayah. Zohri juga ingin agar rumah itu tetap menjadi pengingat masa kecilnya yang keras, jadi dia tidak akan pernah lupa dari mana dia berasal.
Menyusul dua gempa bumi di Lombok, Zohri pun ikut serta membantu saudara-saudaranya yang tertimpa musibah. Ia mendonasikan 100 juta Rupiah bagi korban bencana gempa di Kabupaten Lombok Utara.
Tidak ada yang meragukan bakatnya. Peningkatan yang dicapai Zohri antara Juli 2018 sampai Mei 2019 jelas sangat mengesankan. Catatan waktunya dari 10,18 menjadi 10,03 detik dalam 10 bulan jelas menjanjikan banyak hal bagi Zohri, tentu dengan pelatihan yang tepat.
Perlu dicatat, Zohri mungkin akan membuat lebih banyak sejarah di Tokyo 2020. Mengalahkan semua rekor dan lawan terberat sudah menjadi ciri khasnya.
(YS)
Cover: BolaSport.com

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Reactions

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *