Baper Saat Di-Unfollow di Media Sosial, Ini Alasan Ilmiahnya

Please log in or register to like posts.
News

Pernah nggak sih baper saat ketahuan di-unfollow kenalan di media sosial? Padahal yang unfollow adalah orang atau teman yang nggak kamu kenal-kenal banget di dunia nyata. Anehnya kenapa kita bisa sakit hati dan kecewa, ya? Ini kata ahli psikologi.

Sebagian besar, pertemanan lewat media sosial dapat dikatakan sebagai ‘omong kosong’. Memang sih medsos kita gunakan untuk mempertahankan hubungan dengan orang yang kita kenal. Nyatanya hal ini cuma jadi ajang nambah-nambah kontak dan sangat jarang banget digunakan untuk menghubungi mereka.

Penelitian menunjukan, anak SMA hanya mengenal 72 persen teman-teman Facebook-nya. Dengan kata lain kita sebenarnya nggak peduli-peduli banget dengan teman-teman kita di dunia maya.

Menurut pakar psikologi sosial dari Wesleyan University, Kip Williams, jumlah follower membantu kita dalam membangun rasa diterima oleh masyarakat dan menaikkan harga diri dalam sistem pergaulan. Kehilangan follower atau teman di medsos, kata Kip, dapat mempengaruhi orang dengan cara yang sama seperti penolakan, dikucilkan, dan pengasingan.

Artinya tindakan memilih unfollow dapat menyakiti dan merendahkan harga diri seseorang. Mungkin semua pengguna medsos berpotensi merasakan efek negatif ketika sadar telah di-unfollow orang, termasuk orang yang nggak kita kenal baik di dunia nyata.

Nggak heran beberapa penelitian seputar psikologi pengguna medsos mengungkapkan kesimpulan yang serupa: sebagian besar pengguna medsos cenderung kecewa ketika di-unfollow seseorang, terutama jika orang tersebut nggak memberitahu alasan atau nggak berusaha menyelesaikan konflik antara keduanya sebelum melakukan unfollow.

Penelitian yang melakukan survei pada 547 pengguna Facebook mendapati jika mereka lebih tersakiti jika orang meng-unfriend daripada akun mereka di-follow oleh akun yang sudah nggak aktif alias ‘mati’. Bagi mereka, tindakan unfriending dianggap seperti kritik terhadap identitas mereka.

Padahal di sisi lain, beberapa orang yang ingin membersihkan friendlist atau following list dari orang-orang yang nggak begitu dikenalnya (mungkin termasuk kamu) nggak memiliki maksud apapun, apalagi menghina. Jadi idealnya, kita sebagai pengguna medsos harus memperkuat diri melawan sensivitas emosional, melihat orang lain meng-unfollow akun kita demi kehidupan medsosnya yang lebih sehat.

Suka nggak suka, tombol unfollow memang memiliki fungsinya sendiri. Daripada memfokuskan diri pada jumlah follower dan perkembangan angkanya, lebih baik bangun hubungan yang lebih akrab dengan orang yang benar-benar kamu kenal dan kasihi di dunia nyata, seperti keluarga, pacar, atau sahabat-sahabatmu. Lagian juga, kalian memang nggak saling kenal, kan? Ngapain juga marah-marah atau ngambek saat di-unfollow?

(YS/ERN)

Cover: wnycstudios.org

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Reactions

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *