“Bebas-Korset”, Gerakan Kelompok Feminis Korsel Menentang Budaya Operasi Plastik

Please log in or register to like posts.
News
Di kawasan kelas atas Seoul dan Gangnam, Korea Selatan, merupakan pemandangan yang biasa jika kita melihat masker penutup wajah yang dikenakan pedestrian. Gedung-gedung mewah yang terdapat klinik-klinik operasi kosmetik di setiap lantainya dan iklan yang memperlihatkan perempuan dengan mata seperti boneka, dagu lancip dan anti kerutan wajah, dengan sadar mereka menyampaikan kalau kamu juga bisa secantik itu jika memilih klinik yang tepat.
Yep, stigma operasi kosmetik di Korea Selatan sepertinya menjadi sebuah keharusan untuk semua orang. Mereka enggan menunjukan ‘wajah aslinya’ -tanpa operasi dan makeup- di ruang publik karena standar keindahan fisik yang harus sempurna. Dilansir dari The International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS), 20 persen wanita Seoul berusia 19-49 tahun melakukan operasi kosmetik.
Source: thetelegraff.com
Bahkan, jumlah operasi kecantikan per orang di Korea Selatan adalah yang tertinggi di Dunia dengan hampir 1 juta operasi per tahun. Tetapi, suksesnya #MeToo, gerakan tentang jutaan perempuan di seluruh dunia yang berbagi cerita mengenai pelecehan-pelecehan seksual yang mereka alami, semakin banyak orang Korea yang memprotes tekanan sosial yang ditekankan pada perempuan.
Adalah gerakan “bebas korset” -yang beride dari tekanan sosial perempuan yang disamakan dengan ikatan korset yang mencekik- perempuan-perempuan Korea Selatan memanfaatkan media sosial untuk melawan standar ‘kesempurnaan’ tidak realistis yang mengharuskan make-up berjam-jam dan perawatan tubuh secara rutin. Gerakan ini bermula dimunculkan dalam platform Instagram, yang bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk menembus batas standar kecantikan yang di tetapkan oleh masyarakat.
Bagaimana? Dengan keluar rumah tanpa makeup, memakai kacamata ketimbang softlens dan memakai baju dan pakaian dalam yang nyaman. Bahkan, beberapa perempuan menyertakan foto peralatan makeup yang dihancurkannya dan hastag #feminist (#페미니스트) dalam postingan mereka.
Para YouTuber yang biasanya membagikan tips-tips agar tampil lebih cantik, juga mengikuti gerakan ini. Bae Li-na, yang baru mulai mengunggah video Agustus 2017, mengalami jumlah penonton dan subscriber naik setelah mengunggah video yang berjudul “I am not pretty” bulan Juni. Dalam video ini, Bae Li-na menunjukan komentar-komentar negatif yang diterimanya seperti “jauh dari standar kecantikan masyarakat” meskipun ia sudah menggunakan makeup. Kemudian Bae menghapus makeupnya dan berkata, “Saya nggak cantik, tapi nggak apa. Jangan mendorong dirimu sendiri hanya untuk memuaskan penilaian orang lain terhadapmu.”
Hingga kini video tersebut sudah ditonton sebanyak 5,3 juta kali. Namun, kolom komentar video tersebut dikunci karena ribuan komentar tersebut mengganggu perdebatan yang nggak ada habisnya dari netizen.
Tapi, sebuah pesan yang ingin disampaikan bukanlah menolak dan menggunjing wanita yang memilih untuk tampil cantik dengan makeup, justru memberikan ruang bebas untuk semua orang, khususnya perempuan agar bisa tampil nyaman sebagai diri sendiri di mata masyarakat.
(YS)
Cover: stomp.straitstimes.com

Reactions

15
3
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Reactions

15
3

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *